Whatsapp-Button

3 Tipologi Manusia Ketika Mendapatkan Nikmat dari Allah

Mendapatkan nikmat dari Allah itu tentunya sesuatu yang sangat kita harapkan. Tujuan dari doa seringkali didominasi permohonan mendapat kenikmatan dari Allah

Banyak kitab yang membahas perihal berkah dari Allah, salah satunya adalah dalam Kitab Syarah Hikam Karya Syekh Ibnu Attha’illah As-Sakandari.

Dalam Kitab Syarah Hikam Karya Syekh Ibnu Attha’illah As-Sakandari dijelaskan bahwa ada 3 tipologi/kriteria manusia, ketika mendapatkan nikmat dari Allah, yaitu :

1. Manusia hanya bahagia sebab kenikmatan yang diterimanya saja.

Pada tipologi pertama ini, yang terjadi ialah sebab kesenangan-kesenangannya, terkabulnya keinginan, dan tergapainya tujuan atas nikmat-nikmat tersebut.

Manusia tipologi ini termasuk orang-orang yang lupa kepada Allah dan menurut Syekh Ibnu Attha’illah justru ibarat diserupakan dengan binatang ternak yang dia ini makan dan minum lupa dengan majikan yang memberikannya.

Keberadaan manusia dengan tipologi seperti ini, sesuai dengan kalam Allah ta’ala yang artinya “sampai pada saat manusia itu bahagia dengan apa saja yang telah diberikan kepadanya sehingga Kami (Allah) akan mengambil mereka dengan mendadak.” Artinya terkadang datangnya nikmat-nikmat yang bertubi-tubi merupakan istidraj (tipuan belaka) dari Allah ta’ala.

2. Manusia yang bahagia Sebab kenikmatan yang diterimanya

Dia juga bersyukur bahwa kenikmatan itu dari Allah. Namun dia masih menyandarkan kebahagiaannya sebab sesuatu itu, sehingga syukur/kebahagiaannya kepada Allah tidak total.

Manusia tipologi kedua ini sesuai dengan Kalam Allah “katakan wahai Muhammad, dengan anugerah Allah dan kasih sayang-Nya, maka hendaklah manusia itu bergembira. Namun ingatlah bahwa Allah itu lebih baik dari apapun yang mereka kumpulkan itu.”

Baca Juga:  Memahami Amarah dalam Islam

Dapat disimpulkan bahwa kebersamaan dengan Allah lah yang menjadi kenikmatan itu sendiri.

3. Manusia yang bahagia hanya kepada Allah

Bahagia yang totalitas sebab Allah, manusia yang bahagia bukan hanya sebab kenikmatan yang diterima, tetapi juga sebab Allah yang memberi kenikmatan itu.

Manusia tipologi ketiga ini tidak pernah melihat lahiriah nikmat dari aspek “kelezatannya”, tidak pula melihat aspek batiniah yang menunjukkan pertolongan Allah terhadap dirinya. Tapi ketika mendapatkan nikmat, kesibukannya adalah seluruh konsentrasi hatinya hanya kepada Allah.

Penjelasan ini sesuai dengan kalam Allah yang artinya “Katakanlah wahai Muhammad, sesungguhnya hanya Allah lah yang menjadi sumber kebahagiaan. Kemudian tinggalkanlah manusia itu dalam berbagai kesibukannya yang bersendau gurau itu.”

Dari penjelasan diatas, dapat kita pahami bahwa sesungguhnya kebahagiaan hakiki itu sebab kebersamaannya dengan Allah. Sungguh setiap kenikmatan yang kita terima idealnya hendaklah bersyukur kepada Allah dan hanya melihat Allah sebagai kenikmatan yang tiada tanding.