Whatsapp-Button

Konsep Tawakkal dan Tawhid dalam Islam

Konsep tawakkal pada dasarnya adalah ilmu dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Oleh karena itu , tawakal merupakan bentuk nyata bukti dari tauhid. Dalam batin , orang yang bertawakal memiliki keyakinan kuat bahwa segala sesuatu berada di bawah kendali Allah ( Swt ) dan bekerja untuk memenuhi kehendak – Nya.

Tawakkal sangat erat kaitannya dengan konsep tauhîd ( Pengesaan Tuhan ) , karena tidak mungkin tawakal muncul tanpa konsep tauhîd yang sudah mapan dalam jiwa.
Tawakkal berarti menyerahkan segalanya kepada Allah dan meneguhkan keberadaan – Nya.

Setiap kejadian telah ditentukan oleh Allah sejak zaman nabi Adam. Namun demikian, Tidak ada beberapa hal yang terjadi yang tidak sesuai dengan pengetahuan dan harapa-NYA. Imam Al-Ghazali, menyalahkan beberapa filsuf yang mengaku Tuhan tidak mengerti teori partikel-partikel kecil di alam ini.

Mungkin juga terkait dengan preman Deisme yang percaya bahwa Tuhan sebenarnya menciptakan alam dan isinya, tetapi Tuhan tidak mengatur nasib ciptaannya. Ibnu Miskawaih juga menekankan hal ini bahwa tidak ada yang akan terjadi tanpa sepengetahuan-NYA.

Apa Itu Tawakal?

Secara terminologis tawakkal di kalangan para ulama. Seperti Imam al-Junaid, sebagaimana penjelasan Syekh Abdul Qadir al-Jailani, bahwa tawakkal berarti menerima Tuhanmu secara total dan berpaling dari selain-Nya. Sedangkan menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani sendiri, tawakkal adalah menyerahkan segala perkara kepada Allah SWT.

Menurut Imam Hanbal, sebagaimana pendapat al-Jauzi, bahwa tawakkal merupakan aktivitas hati, artinya tawakal itu merupakan perbuatan hati, bukan sesuatu yang terucap oleh lisan, bukan pula perbuatan anggota tubuh. Dan tawakal juga bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan.

Lebih “luhur” lagi, menurut Ibrahim al-Khawwash, sebagaimana pendapat al-Jailani, tawakkal adalah meninggalkan khauf dan rajâ’ dari selain Allah ‘azza wa Jalla.

Baca Juga:  Tanda hari akhir, kiamat makin dekat?

Sedangkan Muhammad bin Abdul Wahhab dalam bukunya Kitab al-Tauhid, mengatakan bahwa tawakal merupakan pekerjaan hati manusia dan puncak tertinggi keimanan. Dan Haji Abdul Malik Karim Amrullah ulama
dari Indonesia dalam bukunya Tasawuf Modern mengatakan, “Belum berarti pengakuan iman kalau belum tiba di puncak tawakal.”

Definisi-defini tersebut seolah menunjukkan sikap atau konsep tawakkal sebagai pemasrahan urusan kepada Tuhan dengan menganulir usaha.

Keutamaan Tawakkal

Hal terpenting tentang tawakal adalah ketika seseorang telah menyelesaikannya , mengungkapkan rasa syukurnya kepada Allah SWT dan mempersembahkan kepada Allah SWT sifat ‘Aziz ( terhormat termulia ) yang ada pada pribadi – Nya.

Tawakal yang paling baik ialah tawakal dalam kewajiban memenuhi hak kebenaran, hak makhluk dan hak diri sendiri. Yang paling luas dan yang paling bermanfaat ialah tawakal dalam mementingkan Faktor eksternal dalam kemaslahatan agama, atau menyingkirkan kerusakan agama.

Penghalang Tawakkal

Sejatinya, yang dapat menghalangi seseorang berserah diri kepada Tuhannya sangatlah banyak sekali, namun, sumber utamanya adalah kesombongan. Sombong secara tidak langsung dapat dianggap sebagai pengabaian terhadap keterlibatan “tangan” Tuhan dalam kesuksesannya.

Tingkatan tawakal

  • 1. Mengenal Rabbnya.
  • 2. Menetapkan sebab dan akibat.
  • 3. Mengokohkan hati pada pijakan “tauhid tawakal”.
  • 4. Bersandarnya hati dan ketergantungannya serta ketentramannya kepada Allah.
  • 5. Baik sangka kepada Allah Swt.
  • 6. Menyerahkan hati kepadanya.
  • 7. Melimpahkan wewenang (perkara) kepada Allah (tafwidh).

Kesimpulan

Tuhan menciptakan martabat manusia dengan menggunakan prinsip kepantasan. Jika Anda ingin menjadi kaya, mulailah dengan melakukan hal – hal yang akan membantu Anda menjadi kaya, termasuk bekerja keras, menyelesaikan pekerjaan, dan bersedekah. Setelah refleksi itu, seseorang harus berdoa kepada Allah tentang hal itu.

seseorang harus memasrahkan kepada Allah mengenai hasilnya, karena “hasil” adalah wilayah Tuhan. Semua siswa di kelas belajar rajin dan Berdoa agar mendapatkan ranking satu, tetapi tetap saja, ranking satu hanya dimiliki oleh satu orang, dan itu hanya Tuhan yang mengerti siapa yang paling pantas mendapatkan rangking satu.

Baca Juga:  Malam Nisfu Sya'ban

Ponpes Darul Ulum Addiniyah - Melayani dan Bermanfaat Bagi Banyak Orang