Kontroversi Pandemi Covid-19

Kontroversi Pandemi Covid-199

Covid-19 tentunya seperti yang kita ketahui bersama menuai banyak komentar dan tanggapan dari berbagai kalangan

Semua oran yang ahli di bidangnya mengomentari perihal covid-19 yang tentunya kita ketahui untuk kemaslahatan bersama dan mencerdaskan masyarakat, memberikan respon positif dan mengurangi kepanikan yang bisa menyebabkan menurunnya imun.

Ada juga dari kalangan masyarakat yang menanggapi covid-19 ini dengan keliru

sehingga menyebabkan banyak praduga di masyarakat, berbagai teori konspirasi bermunculan, dan pendapat keliru yang berujung pada pemberitaan hoax.

Berbagai media telah memberitakan banyak komentar dan tanggapan para ulama tentang covid-19

mulai dari tanggapan terkait definisi adanya virus ini sampai syariat agama yang di tegakkan selama pandemi ini.

Covid-19 Merupakan Pemaksaan Syariat

Bencana yang di alami seluruh belahan dunia ini yang sebenarnya merupakan syariat hidup bersih, melanggengkan wudhu, perintah memakai cadar, meniadakan tempat-tempat maksiat dan barang-barang haram, dan sebagainya. Demikian pendapat seseorang berpenampilan keagamaan.

Pendapat tersebut benar namun “siapa yang hendak beriman, maka silahkan dan siapa yang hendak kufur silahkan juga.” Demikian berkali-kali di nyatakan oleh Al-Qur’an dalam berbagai redaksi.

Dalam buku “Corona Ujian Tuhan.” Karya Habib M Quraish Shihab beliau berpendapat bahwa jangan mengkaitkan bencana ini dengan pemaksaan untuk melaksanakan syariat dari Allah,

beliau juga berpendapat bahwa pendapat demikian di kemukakan oleh seseorang untuk kepentingan pribadi manusianya yang mengatas namakan agama.

Keyakinan Masyarakat Indonesia

Keyakinan di sini adalah tentang keyakinan “takut kepada Allah.” atau “takut kepada covid-19.”

Kontroversi di masyarakat tentang keyakinan “takut hanya kepada Allah” menimbulkan dampak yang cukup serius

sebab banyak masyarakat yang kemudian menentang aturan pemerindah dan para ahli dibidang medis yang mewajibkan untuk memakai masker, senantiasa mencuci tangan, dan berjaga jarak.

Dan masyarakat yang berkeyakinan “takut terhadap covid-19” itu di anggap lebih takut kepada makhluk ketimbang tuhannya yang menciptakan.

Dalam menyikapi hal ini, banyak para ulama yang kemudian berpendapat, salah satunya adalah K.H.Dr.Muhammadun, M.Si beliau berkata bahwa tidak bisa membenturkan antara takut dengan covid-19 dan takut kepada Allah, sebab dalam pelaksanaan yang hakikat ada pula pelaksaan nya syariatnya.

Tentu takut kepada Allah Swt itu mutlak. Tapi tidak serta merta orang yang memakai masker, senantiasa mencuci tangan, dan berjaga jarak merupakan bukti dari “takut kepada Covid-19” tapi yang demikian adalah orang-orang yang meyakini hakikat takut kepada Allah namun dengan menggunakan syariat menggunakan masker, mencuci tangan, dan berjaga jarak. Dengan melakukan hal demikian juga termasuk salah satu menjalankan perintah Nabi Saw patuh kepada pemimpin.

Jadi, dua keyakinan ini bukan untuk dipilih apalagi dibenturkan pendapatnya tapi untuk di kompromikan.

Dampak Positif Covid-19

Bencana covid-19 ini di lihat dari berbagai sudut pandang tidak serta merta membuat dampak buruk seperti yang sudah maklum dimasyarakat.

Akan tetapi dengan adanya pandemi ini kita jadi lebih peduli terhadap sesama, lebih mengenal banyak orang yang sebelumnya tidak pernah kita kenal

orang tua lebih peduli terhadap anaknya, orang kaya banyak yang bersedekah dengan hartanya lebih banyak dari biasanya, dan beragam hal positif lainnya.

“Terkadang sebab masalah yang sama, kita bisa menjalin kebersamaan.”

Kutipan di atas sepertinya sangat tepat untuk menggambarkan fenomena sosial saat ini.

Penutup

Dari berbagai kontroversi di masyarakat perihal covid-19 ini tidak lain adalah untuk menambah khasanah keilmuan kita

dan semoga semakin lebih bijak dalam mengahapi sesuatu, dalam menyikapi sesuatu yang belum ada ukuran pasti kebenarannya. Dan tidak lain tulisan ini di buat untuk menyelaraskan beberapa hal yang terkait di masyarakat awam perihal covid-19.

Baca Juga : Apakah Pandemi Ini Azab Ataukah Hanya Takdir Allah?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *