Pendidikan pesantren merespon tantangan digitalisasi 4.0

Pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Adapun metode pembelajaran pesantren bersifat klasik dengan metode pembelajaran seperti bandongan, selorogan dan lain sebagainya. Merespon perkembangan zaman yang memasuki era generasi Z system pendidikan mengalami banyak perubahan dan menuntut semua kalangan untuk mampu beradaptasi. Begitu pula pondok pesantren memodifikasi system pembelajaran dengan memasukan sebuah nilai-nilai moderat yang membawa kajian pesantren dalam sebuah narasi ilmiah.

Dunia saat ini sedang melalui tahap perkembangan, baik dari segi teknologi informasi dan komunikasi digital. Keistimewaan era ini adalah tidak adanya hambatan dalam sistem teknologi, sehingga semuanya dapat diakses secara gratis. Sistem teknologi yang memungkinkan masyarakat untuk mengakses informasi dan pengetahuan secara cepat hanya dengan berdiam dengan ponsel, memungkinkan mereka untuk mencapai apa yang mereka inginkan, dan era digital dengan segala kenyamanannya menciptakan rasa ketenangan dan kepedulian terhadap munculnya sikap apatis dan hilangnya kepekaan sosial akibat ketergantungan yang berlebihan.

Keberadaan era digital ini menjadi keharusan bagi setiap orang dan pihak manapun, seperti halnya bagi pendidikan Islam itu sendiri. Pendidikan Islam adalah sebagai pendidikan ideal dengan sistem terpadu yang menyeimbangkan permasalahan dunia dan masa depan (Akhirat). Lembaga pendidikan pesantren pada masa era digital ini tentu akan terus berupaya mengeksiskan diri dengan memberikan sistem pendidikan yang mampu mencetak SDM yang unggul, memiliki wawasan global, berakhlak baik, dan mampu bersaing pada era-era selanjutnya dengan tetap mempertahankan identitas sebagai pesantren.

Lembaga pendidikan pondok pesantren saat ini menyesuaikan dengan konsep ilmiah dan sebuah fenomologi yang terjadi pada masyarakat. Menciptakan santri dengan tetap mempertahankan akademi klasik sebagai keunggulan. Sehingga penerima manfaat dapat memanfaatkan media sosial dengan mempromosikan literasi digital dan membuat saluran untuk studi Islam.

Salah satu strategi dari para pemikir untuk menghadapi era digital adalah transformasi teknologi melalui platform media sosial. Situasi ini tentunya membutuhkan upaya strategis untuk menggeser peluang untuk memilih strategi yang tepat. Untuk menghadapi derasnya arus teknologi, pondok pesantren juga mengalami pergeseran kurikulum. Untuk mencapai tujuan tentunya memerlukan kerjasama antara pemerintah dan lembaga pendidikan agar dapat memaksimalkan manfaat. Potensi positif era digital. Nantinya, lulusan pendidikan Islam dengan pengetahuan dan keterampilan serta karakter dan kemampuan yang baik untuk menjawab tantangan sosial.

Kesuksesan Pendidikan Pesantren

Kesukessan pesantren dalam menghadapi era digital 4.0 terletak kepada sosok pemimpin yang mampu membina dengan dasar lima macam manajemen; perencanaan, pengorganisasian, pelaksanan, evaluasi dan spiritual. Pembina pesantren pada dasarnya berpegang pada tradisi lama yangmana memodifikasinya dengan sedemikian rupa sehingga memberikan sistem pembelajaran yang lebih baik. Yangmana dengan tradisi baru ini mampu mewujudkan sisitem pembelajaran dalam mewujudkan pendidikan pesantren yang ideal.

Dari inovasi-inovasi dalam pendidikan pesantren bahwasanya pondok pesantren telah membuka diri dengan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Yangmana sebelumnya pondok pesantren hanya mengembangkan keilmuan agama semata dan sekarang pondok pesantren mengembangkan pendidikan menjadi sebuah konten. Dalam mengembangkan pendidikan pesantren berbasis digital merupakan salah satu upaya pondok pesantren untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Menurut KH. Abdurrahman Wahid atau sering dikenal dengan sebutan Gus Dur bahwasanya dinamisasi ini mencakup dua proses, yaitu proses menghidupkan kembali nilai-nilai hidup positif yang telah ada dan mengganti nilai-nilai lama yang dianggap lebih sempurna dengan nilai-nilai yang baru. Berdasarkan maqalah sebagai berikut; “Memelihara dan melestarikan nilai-nilai lama yang masih relevan dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih relevan.” Dari maqalah tersebut menurut Gus Dur yang lebih mengutamakan untuk menjaga tradisi kemudian melakukan perubahan yang relevan dengan tradisi tersebut. Dari sini pondok pesantren memberikan tempat untuk berinovasi, akan tetapi harus tetap menjaga koridor tradisi yang baik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *