Sifat Tawadhu yang Haqiqi

Sifat tawadhu yang haqiqi

Assalamu’alaikum sahabat DUA

Dalam kitab Al-Hikam karya Syekh Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari.

Bacaan Lainnya

Apa yang di maksud dengan “sifat tawadhu yang haqiqi?.”

penggembala dan kambing di hutan

Seseorang yang di dalam hatinya itu memiliki keinginan dan menetapkan bahwa di- rinya adalah orang yang tawadhu,

maka sesungguhnya orang tersebut adalah orang yang sombong di karenakan meletakkan sifat tawadhu itu tidaklah dengan penetapan diri.

Dan tawadhu itu tidak lain adalah menyaksikan keluhuran yang berhak untuk disandangnya

sungguh orang yang mengaku tawadhu dan merasa memiliki keluhuran dengan tawadhu nya itu

maka dia memposisikan diri di atas sesuatu yang di bawahnya.

maka dari itulah jangan memasukkan tawadhu dalam di- rimu sehingga engkau merasa luhur

karena di saat itulah kau itu adalah orang yang sombong dalam sejatinya.

kesombongan dalam di- rimu itu tidak akan bisa hilang

kecuali mampu menetapkan diri sebagai orang yang lemah secara haqiqi.

Adapun Orang yang memiliki kriteria atau sifat tawadhu namun belum melihat dirinya sebagai orang yang lemah dan hina maka belum masuk kategori tawadhu.

Adalasannya adalah di- rinya masih merasa mampu melakukan hal yang baik hal ini

berbeda dengan jikalau seseorang itu melakukan kebaikan dan menganggap

di- rinya belum layak untuk mampu berbuat baik seperti itu di karenakan melihat dengan nyata

adanya kekuasaan dari Allah maka dia ini masuk kategori tawadhu’ yang haqiqi.

Jika seseorang menilai di- rinya mampu berbuat yang lebih baik dari kebaikan yang sudah di lakukan

sekalipun merasa dirinya tawadhu maka orang ini adalah orang yang sombong secara haqiqi.

قال الشبلى “من رأى لنفسه قيمة فليسى له من التوا ضع نصيب “

karena itulah imam as-syibli pernah berkata. : “Siapa saja yang melihat pada dirinya sendiri memiliki nilai

Maka bagi orang tersebut tidak memiliki bagian dari sifat tawadhu.”

Note: dewasalah dalam beribadah dan beragama, dewasalah dalam memiliki sikap mental.

ketika kedewasaan agama, ibadah dan mental kita terbentuk, yang ada hanyalah segala yang terjadi dalam diri kita tiada lain adalah adanya daya upaya kekuasaan dari Allah SWT

Penutup

Itulah sifat tawadhu yang haqiqi maka selalu bawa Allah dalam segala hal, karena Allah yang memberikan daya upaya, kekuatan kepada kita. Makanya ada bacaan

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْم Artinya: “Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang maha tinggi lagi maha agung.”

meskipun kita bersungguh-sungguh tapi jika tidak ada daya upaya atau atas izin Allah maka semua itu tidak akan terjadi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *