Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 65

Tafsir Al-Kahfi Ayat 65

Assalamualaikum, kali ini kami akan melanjutkan kajian tafsir dari yang sebelumnya. Yakni Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 65. Sebelum membaca 4 tafsir mari kita baca terlebih dahulu ayat beserta terjemahannya menurut Al-Qur’an Kemenag

Q.S. Al-Kahfi : 65

فَوَجَدَا عَبۡدٗا مِّنۡ عِبَادِنَآ ءَاتَيۡنَٰهُ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلۡمٗا  ٦٥

Bacaan Lainnya

Artinya :

Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.

Tafsir Jalalain Surat Al-Kahfi Ayat 65

Setelah Nabi Musa dan Yusya’ bin Nun kembali ke tempat semula, maka bertemulah mereka berdua dengan seorang hamba di antara hamba-hamba-Ku. Hamba itu adalah Khidir. Kami (Allah) telah memberi Khidir sebuah rahmat dari sisi Kami.

Menurut mufasir (orang ahli tafsir) yang di maksud rahmat ini adalah Nabi Khidir itu di beri status kenabian. Dan menurut pendapat mufasir yang lain di samping di beri status kenabian Nabi Khidir pun di beri keistimewaan khusus status kewalian atau kekasih yang lebih daripada Nabi Musa a.s dan pendapat inilah yang di pakai oleh mayoritas ulama.

Dan Kami (Allah) mengajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami. Ilmu yang di maksud adalah ilmu yang tidak bisa di ketahui dengan kasat mata saja.

Di riwayatkan oleh Imam Bukhori ada sebuah hadits, sesungguhnya Nabi Musa pernah berdiri di tengah Bani Israil dalam keadaan berbicara. Di saat itulah, Nabi Musa di tanya Bani Israil “Siapakah manusia yang lebih pintar di antara semua ini?”

Nabi Musa menjawab “Yang lebih pintar adalah saya.” Mendengar ini, maka Allah menegur Nabi Musa a.s di karenakan tidak menjawab bahwa yang lebih mengetahui adalah Allah.

Allah mewahyukan kepada Nabi Musa bahwa “Sesungguhnya Saya memiliki hamba yang berada di pertemuan dua laut dan lebih pintar daripada kamu (Nabi Musa).” Seketika Nabi Musa sadar dan berkata “Wahai Allah, bagaimana caranya saya bisa bertemu dengan hamba-Mu?”

Allah pun menjawab “Bawalah ikan sebagai bekal dan di simpan ke dalam wadah. Pada perjalananmu  nanti ketika ikan di wadah hilang maka di situlah hamba-Ku berada.”

Mendapat wahyu ini, Nabi Musa melakukan seperti yang di arahkan Allah. Beliau pergi dengan Yusya’ bin Nun dan sampailah di sebuah tempat pinggir laut dan merebahkan kepala lalu tertidur.

Di saat itulah, ikan bergerak hidup dan keluar dari wadah. Ikan itu pun berjalan ke laut. Jalan yang di pakai itu berubah menjadi tempat yang padat mirip terowongan.

Ketika Nabi Musa terbangun dan Yusya’ bin Nun lebih dahulu bangun melihat sendiri peristiwa itu dan lupa menceritakan kejadiannya. Setelah Nabi Musa bangun melanjutkan perjalanan. Di saat letih dan lapar Nabi Musa meminta Yusya’ untuk diberi sarapan.

Di saat itulah, Yusya’ sadar hilangnya ikan dan lupa menceritakannya kepada Nabi Musa sebab di goda syetan.

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Kahfi Ayat 65

Sebagaimana yang di dasarkan pada riwayat Imam Bukhori bahwasanya setelah Nabi Musa di ingatkan oleh Allah tentang Nabi Khidir yang lebih alim dari Nabi Musa, maka Nabi Musa pun segera pergi meninggalkan daerahnya dengan di temani Yusya’ bin Nun a.s.

Kepergian beliau berdua ini dengan mengikuti perintah Allah yakni berjalan untuk menuju pertemuan dua lautan dan dengan membawa ikan mati yang sudah di asinkan. Sesampainya di tempat yang di tuju yang waktu itu Nabi Musa dan Yusya’ belum tahu, maka di saat itulah mereka berdua istirahat dan tidur.

Di tempat inilah terdapat air hasil pertemuan dua lautan itu yang di namakan مَاءُالْحَيَاة    (air kehidupan). Benda-benda atau makhluk apapun yang sudah mati ketika terkena air ini pasti akan hidup.

Dan ikan yang sudah di asinkan itu terkena air kehidupan ini sehingga dia bergerak, keluar dari wadahnya dan berlari menuju lautan. Setelah Nabi Musa bangun meminta makan dan seterusnya, maka sampailah pada riwayat bahwa Nabi Musa dan Yusya’ bin Nun bertemu dengan Nabi Khidir.

Beliau memperlihatkan Nabi Musa dan temannya seekor burung yang berada di tepi kapal. Kemudian burung itu menenggelamkan kepala sampai paruhnya ke dalam lautan dan mengangkatnya kembali.

Di saat itulah Nabi Khidir berkata kepada Nabi Musa “Tidaklah ilmuku, ilmumu dan ilmu semua makhluk jika di bandingkan ilmunya Allah. Maka tidak lain ilmu selain Allah sangatlah sedikit, yang di ibaratkan seukuran air yang menempel pada burung itu setelah di tenggelamkan ke dalam lautan.”

Tafsir Munir Surat Al-Kahfi Ayat 65

Nama Nabi Khidir adalah Balya Bin Malkan, kunyahnya atau julukannya adalah Abdul Abbas. Beliau ini adalah keturunan Nabi Nuh dan bapaknya sendiri adalah seorang raja yang memiliki kedudukan dan meninggalkan gemerlapnya dunia.

Menurut mayoritas ulama bahwa Nabi Khidir ini hidup sampai hari kiamat. Di karenakan beliau memiliki مَاءُالْحَيَاة yakni air kehidupan yang berada pada pertemuan dua lautan.

Tafsir Baidhowi Surat Al-Kahfi Ayat 65

Nama lain Nabi Khidir adalah Al-Yasa’ dan menurut yang lain adalah Ilyas. Nabi Khidir ini di beri ilmu oleh Allah yakni ilmu ghoib yakni ilmu yang khusus di miliki oleh Allah. Dan tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui kecuali dengan pertolongan Allah Swt.

Penutup

Demikianlah kajian 4 tafsir dari Surah Al-Kahfi Ayat 65. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

Baca Juga : Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 66

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *